Perkara jarak dan alibi
Jarak antara kota A dan kota B bisa ditempuh paling lama 60 menit. Dan paling cepat tanpa hambatan apapun bisa di tempuh dalam waktu 20 menit. Jika kota A adalah kota yang aku tempati dan kota B adalah kota yang kamu tempati. Kenapa kamu selalu anggap itu "jauh" itu membuat kamu pesimis. Kota A dan Kota B itu dekat. Sedekat antara mata dan telinga. Namun mata tidak pernah mampu melihat telinga tanpa sebuah perantara cermin. Sama halnya dengan kita tak mampu melihat satu sama lain tanpa perantara.
Perantara kita adalah kecanggihan komunikasi. Aku bisa menghubungi mu kapan saja. Tapi aku tak mampu bertemu dengan mu kapan saja.
Kamu selalu memanifulasi jarak menjadi "jauh" . Ketika kamu menyadari jarak itu dekat namun kamu mencoba melontarkan sebuah kalimat alibi untuk menyelamatkan dirimu. Duhai sayang... kenapa kamu terus beralibi? Aku tidak akan menggigit jari kamu hingga putus, atau menggigit bahu kamu hingga membiru. Ketika kamu menanyakan apa yang akan aku lakukan ketika bertemu . Jawabannya hanya satu aku akan berterima kasih kepadamu. Karena kamu telah meluangkan waktu kamu untuk aku. Karena kamu tidak beralibi lagi dengan masalah jarak. Karena kamu mengajarkan aku untuk bersabar. Aku akan mengucapkan terima kasih tidak dengan memeluk mu aku hanya akan menatap kamu, dan menunjukan semua ini nyata. Dengan mata aku akan menunjukan ketulusan. Dengan mata aku ingin merasakan kenyaman. Aku tidak butuh rangkulan atau pelukan aku hanya ingin menatap tajam bola mata kamu yang kecil.
Sayang... jarak ini menanti untuk kau lewati, biarkan jalan berlubang menuju tempatku menjadi saksi singgahnya kamu. Jarak itu "dekat" kamu jangan membuat jarak itu jauh dengan "alibi".
Aku mencintai kamu... aku menunggu kamu... biarkan dua tangan ini menjadi saksi... Aku tidak akan memaksakan kehendak, aku hanya menunggu. Aku tidak akan berlari mengejar karna aku sadar aku bukan atlet lari marathon.
Ubah "jarak dan alibi" menjadi "jarak dan doa" . Biarkan jarak jadi penguji kesetiaan dan kesabaran.
Jika suatu hari nanti kamu berkunjung kerumah ku, akan aku buatkan kamu teh manis hangat. Agar kamu mampu menikmati kehangatan bersamaku. Dan aku akan membuat satu gelas kopi pahit untuk diriku sendiri. Bukan untuk membunuh diriku kepahitan itu. Namun aku harus merasakan pahitnya dekat kamu. Bukan merasakan rasa pahit yang getir ketika kamu memilih meninggalkan aku sendiri.
Semoga jarak ini yang baik untuk kita. Agar kita lebih sering meminta kepada pencipta. Agar kita mensyukuri sebuah temu yang terjadi. Karena menunggu membuat aku sering mengadu kepada sang pencipta. Karena menunggu aku dihujat oleh mahluk yang instan.
Biarkan semua ini menjadi kekhusyuan untuk ku.
Jarak yang terbentang tidak mensurutkan segala rasa.
Seperti dendam, Rindu harus dibayar tuntas.
Komentar
Posting Komentar